17 Oktober 2011

Aku Tak Buta


Created by nanang_grande

Pic by Ladrina Bagan  
Seonggok daging, dan atau beronggok-onggok daging,,

Hmmm, mungkin membayangkan apa yang dihadapannya itu menjadi menu keseharian Bayu. Mungkin terbesit, itu adalah menu keseharian untuk dimakan. Namun Bukan, bukan itu maksudku.
Kali ini Bayu sejenak menatap, menghela nafasnya untuk sekedar menatap jari-jari tangannya yang memucat putih.

"Siapa Aku, dulu?dulu, Aku siapa? Bukan siapa-siapa, dulu"

Lalu, Bayu membungkukkan badannya untuk mengambil pisau yang Ia simpan di rak paling bawah. Telapak tangannya Ia rekatkan pada meja yang ada dihadapannya. Ia tentunya hanya bisa tersenyum melihat beberapa orang yang sedang asik ngobrol, sembari menikmati makanan hasil masakannya.

Iya betul, sekarang Bayu telah memiliki restoran. Dengan beberapa anak buah yang hampir semuanya berasal dari kampungnya.

Sayu-sayu Bayu memandangi wanita berbaju rapi yang sedang menikmati makanannya.
"Sepertinya Aku kenal", gumam Bayu dalam hati.
Bayu kembali meletakkan pisau ke dalam rak, "Mbok, ini tolong!!", Bayu memberikan piring yang hendak Ia sajikan.
Bayu memberanikan melangkah mendekati wanita itu.

"Amel, Kau kah itu?!?",Kontan Bayu mengagetkan wanita yang masih menyisakan makanan yang ada dipiringnya itu.
"Hah?!! Mas Bayu?!!",,,

Seperti hendak berdiri menyambut Bayu, Amel mengepalkan kedua tangannya dihadapannya. Ia tertunduk, lama tak berselang seperti suara isak tangis.

"Udah, Mel. Habiskan dulu makanannya, ya udah aku balik ke belakang lagi yha!!", pamit Bayu berlalu meninggalkan Amel yang masih tertunduk seperti malu, seperti telah menyesali sesuatu.
Bayu pun seperti enggan meninggalkan wanita yang pernah ada dihatinya itu, namun Ia tak ingin terjadi sesuatu nantinya yang membuat pengunjung lainnya justru jadi terganggu. Sejak kejadian di Lubuk Linggau itu, Bayu tak pernah tahu dan memang tak ingin tahu lagi kabar Amel.

Bayu terus melangkah, menuju ruangan kecil yang biasa Ia sebut sebagai ruang tempat Ia mengontrol pekerjaannya sebagai pemilik restoran. Bayu memejamkan matanya, sesekali membuka matanya hanya sekedar memastika apa yang baru saja terjadi.

ketika kau tak sanggup melangkah
hilang arah dalam kesendirian
tiada mentari bagai malam yang kelam
tiada tempat untuk berlabuh

bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

(Maher zein feat fadly~insyaallah)

Bayu menyisingkan lengan kirinya. Masih teringat, ketika Ia memutuskan sehidup semati dengan Amel, guratan pisau yang masih membekas di pangkal lengannya, di balik lengannya pun masih membekas beberapa luka sewaktu Amel hilang akal menyerangnya dengan sebuah pisau. Tiada yang salah, hanya keadaan yang memang membuat mereka akhirnya berpisah.

Tak lama kemudian,,  "Tokk, tokk"
salah satu pekerjanya mengetuk pintu
"Pak, ada cewe yang ingin ketemu, beugh cantiknya, Pak. Mau jadi istri kedua ya?? Hehe", canda Anto, sembari mempersilahkan wanita itu masuk ke ruangan Bayu.

"Maafin Amel, Mas. Mas Bayu ngga dendam sama Amel kan?!", pinta Amel yang masih berdiri di samping pintu yang masih terbuka itu.
"Masuk aja, Mel. Atau kita ke taman aja, Mel. Ngga enak diliat yang lain kalo matamu masih merah gitu. ", ajak Bayu yang seketika itu langsung menutup lengan bajunya mengajak Amel ke taman.

"Wah sekarang Mas Bayu sukses yha! Udah punya restoran sendiri. Istrinya gimana kabar, Mas? Anaknya udah berapa?", tanya Amel yang sebegitu tidak sabarnya ingin tahu keadaan keluarga Bayu.

"Baik, mereka lagi dirumah. Paling bentar lagi aku pulang kok", jawab Bayu yang sepertinya tak ingin cerita begitu banyak.

"Mas bahagia?!!", lanjut Amel, memotong jawaban Bayu.

"Udah lah, Mel. Biarkan aku tenang, Iya aku bahagia"

"Apakah dia lebih cantik dari Aku??"

"Udah lah mel!!", potong Bayu yang seketika itu menghentikan langkahnya menatap tajam Amel.

Tiba-tiba Amel menghentakkan tubuhnya memeluk Bayu. Kontan Bayu langsung menyingkirkan tangan Amel yang tengah memeluknya dengan erat itu.

"Lepaskan!!! Lepas, Mel!!!, AKU TIDAK BUTA, Mel !!!", tegas Bayu sembari menangkis pelukan tangan Amel.

"Itu dulu, Mel. bukan salahku Aku meninggalkanmu. Kau yang memutuskan sendiri memilih Rifki yang menurutmu cinta sejatimu itu. Sekarang biarkan aku bahagia. Jangan kamu sekarang seperti kehilangan arah seperti itu. Bukan tanggung jawabku membahagiakanmu"

"Tapi, Mas. Aku hanya ingin minta maaf"

Segera Amel melepaskan cengkraman tangannya. Berlari meninggalkan Bayu.

Hmmmmm,,, lagi-lagi Bayu hanya bisa menghela nafas. Seolah masih belum menyadari apa yang baru saja Ia hadapi.

Insyaallah
Insyaallah
You'll find the way
Insyaallah
Insyaallah
You'll find the way

Terpaku dalam sebuah bait lirik Maher Zein, Bayu pun berlutut. Seraya tak kuat Ia untuk berdiri. Ia pun menitikkan air mata. Dan, tak lama suara dengungan mobil berlalu, lama-lama menghilang. Sejenak suasana menjadi hening. Bayu hanya berharap, berharap semua kan indah hingga waktunya Ia bisa mengawalinya dengan senyuman.

Dayung menepikan riak
Kala itu air pun menapak dalam
Aku bisa melihat kau begitu tenang
Karena aku tak buta

Bisa saja kau menelanku
Hingga kutak mampu menuju permukaan
Dan aku sadar
Aku tak buta

Bayu

Bayu mengambil HP dalam sakunya, dan lalu pergi sebelum Ia mengucapkan
"Tunggu papa di rumah, I Love You, Mah,,," dalam telfonnya.

Insyaallah
We'll find the way
Insyallah,,,,


~end~


Bayu and the leaf
@sahur

Augst 20th, 2011

Ada Apa dengan Mudik? Suatu Fenomena??







POKOKNYA MUDIK

Mudik, pada awalnya merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Jawa, yang kemudian menjadi populer ditelinga masyarakat Indonesia. Ada yang menduga istilah ini berasal dari kata "udik" yang berarti arah hulu sungai, pegunungan, atau kampung/desa. Orang yang pulang ke kampung disebut "me-udik", yang kemudian dipersingkat menjadi mudik.



Fenomena mudik yang ditandai dengan membludaknya penumpang kendaraan umum adalah budaya khas setiap tahun masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri, yang populer dengan sebutan lebaran. Di setiap terminal, pelabuhan, stasiun, bahkan bandara selalu tampak membludak manusia, seolah-olah mudik lebaran merupakan bagian ”ritual” puasa. Itulah kenapa mendiang Nurcholish Madjid dalam buku Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (1998) pernah berkomentar bahwa ”mudik lebaran adalah puncak pengalaman sosial-keagamaan umat Islam di Indonesia.”



Dengan semangat yang kurang lebih sama, Jalaluddin Rakhmat dalam buku Islam Aktual (1997) mengungkapkan, mudik lebaran merupakan corak manis tentang bagaimana idiom-idiom Islam diterjemahkan secara kreatif ke dalam budaya Indonesia, khususnya budaya Melayu. ”Hanya di Indonesia, kita akan menemukan arus mudik, penumpang yang berdesakan, wajah-wajah yang terseok kelelahan, tentengan yang berat, dan mata yang berbinar-binar karena kembali ke kampung halaman”. Menurut dia, lebaran tidak sama persis dengan Idul Fitri. Lebaran hanyalah sejenis Idul Fitri, diantara berbagai jenis Idul Fitri di dunia.



Karena itulah, bagi orang Indonesia di perantauan, ”Idul Fitri” dan ”mudik” tidak dapat dipisahkan dari segi bahasa yang sama-sama bermakna ”kembali”. Kata Idul Fitri lebih banyak mengarah pada konteks ketuhanan. Menurut ahli tafsir, M Quraish Shihab dalam buku Wawasan Alquran (1999), Idul Fitri berarti kembalinya manusia pada keadaan suci atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda. Sementara mudik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), salah satunya berarti pulang (kembali) ke kampung halaman. Dalam ranah sastra, misalnya, Mustofa W Hasyim pernah menulis cerpen berjudul Mudik (1997). Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang lebaran di perumahan kumuh di pinggiran rel kereta di Jakarta. Pengarang menggambarkan bagaimana penghuni rumah-rumah di sepanjang rel merasa gelisah setiap kereta melintas ke arah timur. Mereka seperti didorong-dorong demikian kuatnya untuk meninggalkan Jakarta menuju ke tempat asal yang lebih damai dan tenteram. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada, dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.



Fenomena mudik ini kalau diruntutkan merupakan sebuah mata rantai yang terjadi sebagai hasil masyarakat ( umat islam ) dalam menyikapi fenomena lebaran. Dimana adanya pergeseran makna mengenai lebaran atau dalam agama dinamakan Idul Fitri menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Dari segi waktunya lebaran tidak hanya pada 1 dan 2 Syawal saja, tetapi sepanjang bulan, bahkan bisa berlangsung sampai bulan berikutnya. Dalam waktu yang relatif panjang itu lah umat Islam di Indonesia berlebaran; berhalal bi halal atau bersilatur-rahmi ke tetangga, sanak-famili, dan handai-tolan sambil saling meminta /memberi maaf, serta melaksanakan ziarah ke kuburan para leluhur dan anggota keluarga yang sudah lebih dahulu meninggal. Orang-orang kota yang berasal dari udik, tentu saja merasa tidak afdal jika kegiatan halal bi halal hanya dilakukan di kota, karena sebagian besar sanak-keluarga dan kuburan leluhurnya ada di udik. Untuk itu mudik menjadi satu keharusan dan menjadi bagian dari tradisi lebaran di negeri ini. Suatu tradisi yang cukup unik, hanya menjadi milik umat Muslim Indonesia.



2. MUDIK SEBAGAI PERILAKU SOSIAL

Tradisi mudik menjadi sangat fenomenal, hal ini terkait dengan politik pembangunan. Ternyata selama ini kota menjadi lumbung uang yang cukup menggiurkan, sedangkan desa-desa dibiarkan miskin dan tertinggal. Karenanya arus urbanisasi mengalir deras demi mendapatkan kehidupan yang layak. Kaum urban inilah yang kemudian rame-rame mudik lebaran. Mereka menjadikan hari lebaran sebagai musim mudik, karena hanya inilah saat yang tersedia, sebab di hari lain mereka sangat sibuk dengan pekerjaan – pekerjaan mereka di kota. Selain itu alasan orang untuk melakukan mudik sangat bervariasi ada yang beralasan untuk melepas rindu kepada sanak-saudara, melepas kepenatan, menunjukkan kesuksesan di kota, mendidik anak dengan kehidupan desa, atau mungkin sekedar refreshing menghindar sebentar dari hiruk-pikuk kebisingan kota serta kecemaran udara oleh asap mesin dan debu.



Mudik adalah euforia publik dalam mencapai keberhasilan ekonomi di perantauan. Sehingga pulang kampung menjadi pertanda bagi dirinya akan sebuah kesuksesan. Begitu pula halnya bagi penilaian masyarakat di kampung halaman, mereka yang pulang dari tanah rantau, cenderung dinilai sebagai seseorang yang sukses dalam mencari rezeki. Akan berbeda dengan sebaliknya, mereka yang tidak mudik atau tidak pulang ke kampung halaman di hari raya idul fitri akan dianggap gagal dalam merantau. Fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Maka mereka pun ikut mudik dengan kendaraan sendiri. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental. Mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa mobil demi prestis yang ingin didapat. Jadi inilah fenomena mudik, menjadi tidak sekedar beridul fitri, tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan mereka mengais rejeki di tanah perantauan.

Maka ketika banyak masyarakat di hari raya idul fitri pulang ke kampung halamannya, sesungguhnya lebih sebagai bentuk upaya pencarian jati diri mereka. Sebab ketika berada di kota-kota besar, eksistensi mereka sebagai seorang manusia tidak ubahnya seperti sekrup dalam mesin yang tidak diperhitungkan. Sementara di kampung halaman, mereka biasanya adalah orang-orang yang diperhitungkan, dibutuhkan, dan dimanusiakan layaknya bagian dari komunitas sosial tertentu.



Sebenarnya banyak sekali hambatan – hambatan yang menghadang orang untuk melakukan mudik. Baik dari segi sosial maupun ekonomi. Dari segi sosial sendiri kebanyakan para parantau memikul beban yang sangat berat ketika mudik. Mereka dihadapkan pada tanggung jawab sosial kepada masyarakat kampungnya bahwa mereka harus menunjukkan kesuksesannya di perantauan dengan simbol – simbol seperti pakaian neces, wangi, serta lenggak – lenggok dan bahasa yang menunjukan superioritasnya di kampung, walaupun sebenarnya di kota mereka sebagai buruh, karyawan, pembantu rumah tangga, atau mungkin malah pengangguran. Selain itu tuntutan ekonomis juga menjadi hambatan mereka untuk mudik. Mereka dituntuk untuk membawa uang banyak agar bisa memberikannya kepada orang tua atau kerabatnya. Jika mereka tidak melakukan seperti itu mereka akan merasa malu dan dianggap tidak sukses di perantauan. Hal itulah yang mejadi hambatan, namun demikian tradisi mudik bukannya menurun tapi justru malah semakin fenomenal.



Dari hal itu sekali lagi dapat dikatakan Idulfitri menjadi momentum bagi para perantau untuk unjuk gigi di daerah. Terkait hal ini, maka wajar jika idulfitri di daerah terasa lebih meriah. Bahkan, kemeriahan ini juga diikuti dengan peningkatan belanja konsumsi para perantau. Para perantau menjadi sangat konsumtif ketika berada di kampung halamannya.

Hal ini merupakan potret ironis para perantau. Dimana ketika berada di kota mereka bekerja keras menghadapi kerasnya kota demi mencari uang untuk kelayakan hidupnya, tapi setelah pulang ke kampung mereka seakan sangat mudah untuk menghabiskannya. Perilaku konsumtif para perantau seakan menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka. Adapun alasan yang muncul yaitu karena perilaku konsumtif identik dengan simbol keberhasilan di perantauan. Dengan kata lain, jika perantau tidak menunjukkan perilaku konsumtif di daerah asal selama idulfitri maka mereka bisa diidentikkan sebagai perantau yang tidak sukses.Dengan mudik, orang yang sudah kehilangan jati dirinya di tengah kota ingin menemukan kembali jati dirinya dengan cara menghirup kembali udara desa sambil mengenang masa lalunya di sana. Jika di kota ia hanya menjadi ibarat sebuah skrup dari mesin besar, maka di kampung ia dihargai sebagai manusia. Jika di kota ia diberi label sebagai buruh, karyawan, pembantu rumah tangga atau lainnya, maka di desa ia dipanggil sebagai anak, abang, atau adik.



SIMPULAN



Tradisi mudik bagi masyarakat Indonesia bukan sekedar tradisi keagamaan semata tapi menjadi sebuah momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga serta yang paling menarik ternyata hal ini juga digunakan sebagai momen untuk menunjukan keberhasilannya di tanah rantau. Selain itu mudik juga menjadi momen untuk mengembalikan jati dirinya. Dimana selama bekerja di kota, mereka seperti skrup dari mesin besar kota yang tidak begitu berpengaruh. Di kampung halaman mereka sejenak melupakan hiruk pikuk kebisingan, gertakan dan ancaman dikota. Selama di kampung halaman mereka akan menemukan jati dirinya yang hilang selama dikota. Dimana ketika di kota mereka di panggil dengan sebutan buruh, pembantu, dll. Sementara di kampungnya mereka dipanggil abang, anak, adik, saudara dll. Atau dapat dikatakan para kaum urban akan memperoleh status sosial yang tinggi serta memperoleh arti kemanusiaan di kampung halamannya yang tidak bisa didapat di kota.

mabok pasti bikin masalah



Suatu ketika, ada seorang businessman yang menghadiri pesta sampai mabuk. Businessman kita ini tahu bahwa di Aussie, ada hukuman berat bagi orang-orang yang melakukan drink-driving (nyetir mobil dalam keadaan mabuk). Tapi malam itu, si businessman mencoba peruntungannya, siapa tahu ia tidak dicegat polisi di jalan.

Namun sialnya, ternyata malam itu semua kendaraan di jalanan yang dilalui oleh si businessman diperiksa polisi. Tidak mungkin baginya untuk kabur karena kendaraan lain sudah mengantre di belakang kendaraannya. Dengan was-was, ia menunggu gilirannya.

Tatkala gilirannya tiba, oleh polisi ia dipersilahkan untuk keluar dari mobilnya. Lalu, ia diberikan sebuah alat tes kadar alkohol serupa alat tiup untuk menguji kadar alkohol dalam napasnya. Tepat ketika ia baru hendak menghembuskan napasnya ke dalam alat itu, tiba-tiba terdengar suara berdentum di belakang.

Teryata ada mobil yang menabrak mobil lainnya. Segera polisi mengambil kembali alat tes itu seraya berkata, "Lebih baik kami mengurusi tabrakan itu daripada mengurusi kamu. Sekarang, kamu pulang saja!". Dengan perasaan plong, ia segera masuk ke mobil, lalu tancap gas untuk pulang.

Keesokan paginya, ketika masih enak-enaknya tidur di kasur nan empuk, ia mendengar bel pintu rumahnya didering berkali-kali tanpa putus. Dengan perasaan jengkel, ia bergegas turun ke lantai bawah, lalu membuka pintu depan. Alangkah kagetnya businessman kita ini tatkala melihat dua orang polisi berbadan besar berdiri di depan pintu rumahnya itu. Tapi si businessman berpikiran, "Kan aku tidak berbuat kesalahan apapun. Jadi, ngapain aku takut?"

Disapanya kedua polisi itu, "Yes, can I help you, Sir?" ("Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?")

Salah satu polisi itu menjawab, "Apa kami bisa melihat garasi mobil Anda?"

"Tentu saja!" jawab si businessman.

Tatkala businessman ini membukakan pintu garasi mobilnya, hampir saja jantungnya copot. Di dalam garasinya itu, ternyata yang didapatinya bukan mobil miliknya, namun mobil polisi. Rupa-rupanya, malam sebelumnya, ketika diminta polisi untuk pulang, karena mabuk, bukannya ia masuk ke dalam mobilnya sendiri, tapi malahan ia salah masuk ke dalam mobil polisi.

(Sumber: Hore! Guru si Cacing Datang)

12 Oktober 2011

Pendidikan Indonesia.. (copas doang)


Encouragement
Kamis, 15 Juli 2010 - 10:23 wib
Rhenald Kasali. (Foto: Ist)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah
diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal
dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia
tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan
kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya
sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah
yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah
dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan
kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak
saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya
bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun
tersenyum.

Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah
saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya
mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik
itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di
sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi
kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang
agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar
itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat
menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa
Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur
prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya
menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga
doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik
ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian
program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.
Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan
penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan
begitu mereka tahu jawabannya.

Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan
seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji,
menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada
saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para
pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di
bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan
kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang
luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat
saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan
discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan
pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan
saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di
Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu
menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke
pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.

“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat
dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya
tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk
bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia
mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang
berarti.

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya.
Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang
tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent
(sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan
kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa
takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta
ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus
yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita
dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...;
dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di
sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia
tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat
tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang
didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat
tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang
pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari
kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau
ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi
ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI


Zaid Shidiq Ashari

VAS - Service QC & Testing