13 Maret 2011

[Red Rose] Mawar Merah

Chapter 2: Bersemi
by Dii Ann Choco on Saturday, April 11, 2009 at 9:34am


Sekelas kembali bersama Nona kembali menjadi tidak istimewa seiring berjalannya waktu. Seperti biasa dia kembali sibuk dengan petualangan pacar-pacarnya, begitu juga aku. Walaupun terkadang aku dan Nona bersenda gurau di kelas, tapi kami tak pernah lagi membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi.

Waktu itu hari Valentine, aku sedang berpacaran dengan anak dari kelas Sosial yang cantik, sampai Nona pun pernah menyatakan bahwa dia iri pada kecantikan pacarku. Hari itu sebenarnya tidak ada yang spesial walaupun Valentine-an. Di kota sekecil ini tidak akan berpengaruh banyak pada hal-hal seperti itu. Tapi aku ingin memberikan sesuatu sebagai kado untuk pacarku, seperti halnya beberapa temanku yang memberika sesuatu pada pacarnya.

Aku lupa bagaimana awalnya, aku berbicara dengan Nona tentang hari itu dan kami pun sepakat untuk keluar dari sekolah selama beberapa jam. Tahukan apa yang aku lakukan dengan dia? Kami hunting mawar. Bukan membeli, tapi benar-benar hunting mawar di kebun orang. Nona telah menyiapkan diri dengan sebuah gunting dan tas plastik hitam, kami berputar-putar kaluar masuk kompleks. Setiap kali ada rumah yang mempunyai taman atau kebun mawarnya kami berhenti sejenak untuk menggunting bunga mawarnya, tanpa minta ijin empunya tentunya.

Ya, hari itu yang aku lakukan dengannya adalah mencuri bunga. Bahkan ketika ada bunga mawar putih yang letaknya di depan sebuah toko, Nona berpura-pura beli permen untuk mengalihkan perhatian agar aku bisa memetik bunga-bunga mawar dan memasukkan ke dalam tas plastik dengan cepat. Hampir 2 jam aku dan dia berhasil mengumpulkan 1 tas penuh dengan bunga mawar. Aku memilih rangkaian mawar putih untuk pacarku, sedangkan selebihnya untuk Nona dan teman-teman lainnya. Dari situ aku tahu bahwa Nona menyukai mawar yang berwarna merah darah, menyukai bentuknya yang anggun walaupun mawar jenis itu wanginya tidak terlalu harum.

Selain itu tak banyak interaksiku dengan Nona. Dia sudah memiliki sahabat-sahabat lain yang aku sendiri tak berminat untuk mengakrabi mereka. Akibatnya aku dan Nona pun sudah tak lagi seperti sahabat apalagi sebagai saudara seperti dulu. Aku hanya bisa memandanginya dari jauh, melepas kerinduanku dengan melihatnya.

Suatu hari menjelang kelulusan sekolah saat diadakan lomba antar kelas dia mendatangiku. Waktu itu aku sedang tidak enak badan dan sendiri saja di dalam kelas, saat tiba-tiba Nona lewat di depan kelas dan melihatku kemudian mendatangiku.

“Ngapain di dalam sendirian?” Tanya dia.

“Ga papa, lagi males aja ngumpul,” jawabku pendek. Dia duduk di kursi de depan mejaku menghadap ke belakang ke arahku.

“Lama ya kita ga ngobrol-ngobrol lagi seperti dulu” ujar dia pelan. Terkesiap aku mendengar ucapannya. Selama ini aku pikir dia sudah benar-benar melupakan aku.

“Ho-oh,” jawabku. “Kamu selalu sibuk dengan teman-temanmu sih,” lanjutku.

“Jangan mulai deh,” sahutnya cepat, “kamu sih ga pernah bisa ngumpul dengan teman-temanku, padahal kamu tau aku ga akan bisa milih di antara kalian.”

“Maaf, kamu mengenalku seperti apa kan.”

Aku menikmati saat-saat seperti ini. Menatap wajahnya dari dekat. Tiba-tiba dia menoleh saat salah satu temannya memanggilnya dan beranjak meninggalkanku. Piuhhh, seperti setetes air dingin yang jatuh di atas tenggorokanku yang dahaga, segar tapi aku tak cukup untuk menikmatinya.

Pelulusan sekolah berlangsung seperti biasanya. Aku dengar Nona ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi di Yogyakarta, kota idamannya selama ini. Sedangkan aku ingin tidak terobsesi dengan kota manapun kecuali dengan hal-hal yang berbau Internasional. Aku mendaftarkan diri ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur dan di terima melalui ujian masuk perguruan tinggi, sedangkan Nona aku dengar tidak lolos. Perlahan aku coba menetralisir perasaanku yang berlebihan kepada Nona dengan sedikit demi sedikit melupakannya. Tidak mau tahu dengan kabar apapun yang terjadi padanya.

1 tahun di perguruan tinggi pun berlalu. Aku jarang sekali pulang ke daerah asalku. Aku tak lagi dengar cerita-cerita tentang Nona. Kalaupun ada kabar hanya cerita-cerita sekilas dari Yosh yang masih terus berhubungan dengan Nona dan Dina. Yosh tidak melanjutkan sekolah karena masalah ekonomi, sedangkan Dina kuliah di perguruan tinggi negeri paling bergengsi di Surabaya. Yosh menjadi orang terdekat bagiku. Tadinya dia sering sekali meledekku punya perasaan pada Nona, tapi akhirnya cape sendiri dengan pengingkaranku.

Saat liburan semester tahun pertama aku pulang ke rumahku melepas kerinduan pada keluarga. Yosh menelponku mengajakku keluar. Ternyata dia mengajakku untuk berkumpul kembali bersama Nona dan Dina, dia kangen katanya.

Kerinduan pecah saat kami berempat berkumpul. Senda gurau dan cerita-cerita silih berganti meramaikan suasana. Aku pun melepas kerinduanku pada Nona dan kedua sahabatku yang lain, betapa menyenangkan. Kemudian aku puny aide untuk melakukan hal-hal berempat seperti yang kami lakukan dulu. Namun sayang Nona menjawab tidak bisa karena dia akan kembali ke Yogyakarta keesokan harinya untuk mempersiapkan diri masuk dalam perguruan tinggi negeri setelah ikut ujian masuk untuk kedua kalinya. Walaupun pengumuman masih 1 minggu lagi, tapi Nona yakin dia akan lolos dalam ujian masuk kali ini.

Akhirnya malam itu kami bertemu kangen lalu berpisah kembali sambil mengucapkan selamat jalan.

Keesokan harinya setelah memikirkan masak-masak aku mendatangi Nona lagi untuk menyerahkan buku agendaku waktu sekolah SMA. Isinya sebenarnya adalah aktivitasku waktu sekolah, tapi ga sedikit juga tentang pertanyaan dari perasaanku pada Nona. Entah kenapa saat itu aku merasa Nona berhak tahu walaupun itu sangat beresiko pada hubungan persahabatan kami yang sedang membaik.

Sore harinya Nona menelponku dan menyuruhku datang ke rumahnya untuk sekali lagi bertemu sebelum dia berangkat. Bersama Yosh aku datang kesana, dan lagi-lagi kami hanya bercanda. Aku sempatkan untuk bertanya pada Nona jam keberangkatan bus malamnya, dia menjawab dengan tanya balik padaku apakah aku mau mengantarnya. Aku jawab kalau hanya sampai Surabaya aku mau, eh ternyata dia senang sekali dan langsung menyiapkan diri. Yosh tertawa terbahak karena dia tahu bahwa aku sebenarnya tidak serius dengan perkataanku, apalagi melihat mukaku yang masih bengong melihat Nona mengeluarkan ransel dan tasnya langsung menyiapkan diri untuk berangkat.

Yosh masih tertawa terbahak melihat mukaku yang masih bengong saat dia mengantarku dan Nona ke terminal Bus. Kali ini Nona benar-benar mengerjaiku, dengan tampang cueknya dia pamitan pada Yosh dan menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya. Bus pun mulai berjalan menembus malam dengan penumpang yang hanya terisi dua per tiga.

Perjalanan ke Surabaya dari daerahku memakan waktu 4-5 jam, cukup melelahkan. Tapi sejak bus berangkat Nona terus bercerita tentang pengalaman-pengalamannya di Yogyakarta, cowok-cowoknya yang masih saja datang dan pergi, dan obsesinya untuk menembus Universitas Gajah Mada. Aku pun menimpali dengan cerita-cerita kuliahku dan teman-temanku.Padahal biasanya aku selalu tidur saat naik bus malam, tapi malam itu aku memuaskan diri untuk berbincang-bincang dengannya melepas kerinduanku dan memandangnya dalam-dalam. Setelah 3 jam kami pun mulai kehabisan topik pembicaraan. Nona memalingkan mukanya memandang kegelapan malam di luar jendela saat memergokiku menatapnya. Aku yang gemas mengacak-acak rambutnya dan dia pun berteriak tertahan.

“Kamu sebenarnya sadar ga sih kalo aku paling ga suka di acak-acak rambut?” sahut dia merenggut tapi lagi-lagi aku membalas ucapannya dengan acakan rambut.

“Aduh!” teriakku ketika sebuah cubitan mendarat di lenganku, dia tertawa tanpa bersuara.

“Btw boleh aku tahu kenapa kamu memberikan buku agendamu padaku?” Tanya dia tiba-tiba setelah beberapa saat kami terdiam. Sebagian besar penumpang bus sudah terlelap dan lampu bus yang temaram tampaknya tak berhasil menyembunyikan kegugupanku.

“Memang sudah kamu baca?” aku balik bertanya.

“Sudah, ga da yang spesial.” Dia kembali memalingkan wajahnya dari tatapanku.

Selalu begitu. Selalu begitu saat dia tidak berkata yang sejujurnya, selalu tidak berani menatapku.

“Bagaimana kabar Gia?” Tanya dia tanpa menolehkan wajahnya padaku.

“Baik,” jawabku. Gia adalah gadis yang kupacari selama setahun ini, tak lama sebelum keberangkatanku kuliah. Nona tak mengenalnya kecuali dari cerita-ceritaku padanya.

“Kamu mencintainya?” tanya dia memalingkan wajahnya menatapku, dia mencari jawaban jujur dariku.

“Aku ga tahu,” jawabku sambil mengangkat bahu. “Apa yang kita definisikan tentang cinta? Kalau hanya berpacaran jarak jauh dan saling setia, berarti jawabanku iya. Tapi kalau apapun kulakukan demi dia, aku jawab tidak.”

“Maksudmu?”

“Ya kalau bagimu cinta itu melakukan pengorbanan, ada wanita lain yang lebih dari dia yang membuatku melakukan apa saja,” jawabku jujur menatap wajahnya.

“Kalau begitu kamu putusin dia,” sahutnya mantap.

Aku terlonjak kaget. Selama ini kami bersahabat tak pernah ada yang ikut campur dalam masalah pacaran masing-masing, apalagi sampai menyuruh putus.

“Kamu putusin dia dan jadiin aku pacarmu...” lanjutnya pelan sambil menundukkan wajahnya.

Aku tak menduganya.

Tadinya aku sudah pasrah saja akan kehilangan dia setelah lancang mengkhianati persahabatan kami dengan mempunyai peraaan yang berbeda dari yang selama ini kami komitmenkan bersama. Aku bahkan telah mempersiapkan diri untuk menikmati memandang wajahnya malam ini untuk terakhir kalinya dan menangisinya di esok hari. Tapi apa yang telah dia katakan sesaat tadi?

“Hellooo.. any body at there?” tiba-tiba telapak tangannya mengusap mukaku cepat menyadarkanku.

Tawanya meledak saat aku terkejut atas tindakannya. Kembali aku mengacak-acak rambutnya membalas keisengan dia, lalu kami diam sambil menutup mulut dengan tangan menahan tertawa saat beberapa orang yang terganggu tidurnya memelototkan mata pada kami atas keributan yang kami buat.

“Non, kamu ga salah dengan ucapanmu?” tanyaku saat kami sudah mulai tenang.

“Ga, aku serius. Tapi kalo kamu ga bisa ninggalin dia sekarang, aku ga akan memaksamu. Ga papa aku jadi yang kedua sampe kamu bisa ninggalin dia. Aku tau dia anak baik dan ga pantas kamu campakin, tapi aku dah sekian lama memendam semuanya, menikmati perasaanku padamu sendirian, menangisi kehilanganmu yang berkali-kali dalam hidupku, dan sekarang… aku ga mau kehilangan kamu lagi.”

“Aku capek dengan semua ini,” lanjutnya. “Tadi siang saat kamu memberikan agendamu padaku, aku sebenarnya tak berharap banyak kecuali kamu hanya ingin memberi sebuah kenangan di antara kita. Tapi saat aku membuka dan membacanya membacanya…”

“Aku ga pernah menyangka kamu juga punya perasaan yang sama. Kita terjebak pada komitmen anak kecil yang sebenarnya justru menyika kita,” lanjutnya lagi. “Padahal tahukah kamu? Aku telah menyimpan perasaan ini sejak kamu mengajakku membuat komitment brengsek itu, membuatku mundur selangkah karena sikapmu yang begitu mengagungkan persahabatan. Kenapa kita harus membohongi diri sendiri? Sampai kapan?”

Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Yang aku lakukan kemudian adalah merengkuh Nona dalam pelukanku saat dia mulai terisak, memeluknya demikian erat seakan ku tak mampu lagi melepasnya. Meneteskan air mata kebahagiaanku untuk pertama kali.

“I love you, my little sist, I love you so much…” bisikku mengecup keningnya.

“Love you too…”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

To Be Continued

[Red Rose] Mawar Merah

Chapter 3: Mekar Sejenak
by Dii Ann Choco on Monday, April 13, 2009 at 1:45pm


Akhirnya cerita persahabatanku dan Nona pun berubah. Entahlah, apa ini memang tujuan perjalanan hidupku? Setidaknya ceritaku dan dia telah berubah setelah 7 tahun.

Setelah malam itu aku jadi sering telpon-telponan dia, walaupun suasananya kaku banget. Sering kami jadi terbahak-bahak saat salah satu dari kami mengucapkan kata rindu, masih sangat menggelikan. Tapi topik kami masih tak jauh dari ‘kebodohan’ yang selama ini kami lakukan. Aku yang tak pernah takut untuk menyatakan cinta pada perempuan manapun malah memendam perasaan sekian tahun, begitu pun dia yang sering ku ledek sebagai ‘playgirl’ ternyata masih mampu menyimpan rasa, padahal aku dan dia jenis orang yang sama, tak pernah bisa menyimpan sesuatu terlalu lama.

Lalu aku dan dia pun sama-sama me’mutus’kan pacar kami masing-masing. Aku menceritakan semuanya pada Gia. Aku ga mau bohong padanya, karena dia dalam hal ini adalah pihak tidak bersalah. Aku mohon maaf di sela-sela tangisnya yang tak lama karena dia mengerti bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Gia justru mendoakan yang terbaik untukku. Kami putus baik-baik. Akhir-akhir ini aku baru mengetahui bahwa Gia masih mencintaiku selama bertahun-tahun sampai akhirnya dia menerima pinangan orang lain tahun lalu.

Beberapa hari setelah aku mengantar Nona adalah pengumuman ujian masuk masuk perguruan tinggi negeri. Aku sudah merencanakan untuk bangun pagi-pagi buta untuk membeli koran dan menelponnya saat dia mungkin masih tidur. Aku ingat betul hari itu adalah hari Sabtu. Tapi satu hari sebelumnya di hari Jumat pagi aku mendapat telepon dari seseorang yang belum aku kenal.

“Ya ampun, aku kan sudah bilang kamu emang belum kenal ma aku, dodolz! Aku Rinda, sobatnya Nona di Yogya,” suara cewe di seberang telepon menjelaskan.

“Oh, aku pikir siapa,” sahutku. “Ada yang bisa aku bantu Rin?”

“Kamu lagi sibuk ga? Kalo ga lo berangkat ke Yogya ya?”

Aduh, ada apa ini? Aku langsung menjadi cemas ada apa-apa dengan Nona. Rinda menjelaskan panjang lebar maksudnya. Walaupun aku belum pernah ke Yogyakarta, aku mengiyakan saja saat Rinda berkata akan menungguku besok pagi di terminal bus Yogyakarta.

Sore harinya aku berangkat ke Yogyakarta. Perjalanan dari kotaku hampir 12 jam, pasti ini akan melelahkan. Sekitar jam 5 pagi keesokan harinya aku menginjakkan kaki di Yogyakarta. Aku harus menunggu 2 jam sampai si Rinda menjemputku, dan 45 menit menggunakan bus kota dan angkutan umum menuju kosnya Nona. Capek.

Akhirnya aku sampai setelah tak lupa aku mampir ke kios bunga untuk membeli sekuntum mawar merah. Aku lihat Nona sedang meringkuk di bawah jendela kamarnya sembari menangis, dia gagal lagi. Ini adalah rencana yang Rinda sampaikan sehari sebelumnya, sebuah kejutan bagi Nona dalam menghadapi pengumuman ujian masuk. Kalaupun lulus ada aku yang akan tertawa bersamanya, ataupun ketika gagal seperti saat ini ada aku yang akan menghiburnya.

“Aku kan sudah bilang jangan ada yang ganggu aku!” teriak Nona saat mendengar langkah kakiku.

Dia belum tahu kalau yang datang adalah aku.

“Aku ga mau mengganggu, hanya ingin disini menemanimu menangis, seperti biasanya aku selalu ada saat kamu menangis,” bisikku di telinganya sambil meletakkan bunga mawar merah di meja di depannya.

Isaknya berhenti. Perlahan dia mengangkat kepalanya melihat mawar yang menggeletak di depannya dan melihatku di sisinya. Tangannya mengusap matanya beberapa kali sampai dia yakin bahwa aku memang ada disitu, lalu dia menghambur memelukku. Tangisnya kembali meledak.

“Loh, napa tambah nangis?” ujarku sambil membelai rambutnya.

Sekilas aku lihat si Rinda melongok ke dalam dan tersenyum senang.

“Kamu…, kamu ngapain disini?” Tanya dia terbata sambil mengusap air matanya.

Aku tersenyum dan melepas pelukannya.

“Kan aku dah bilang tadi disini mo nemenin kamu,” jawabku.

Aku lihat Nona tersenyum disela-sela bekas air matanya.

Hari itu setelah beristirahat Nona mengajakku berkeliling kota. Jalan-jalan di antara kaki lima Malioboro, menyusuri bangunan-bangunan tua keraton Yogyakarta, dan malamnya nongkrong di lesehan di dalam alun-alun kidul keratin Yogyakarta. Aku menikmati perjalanan bersamanya sambil selalu mengalihkan perhatiannya tentang pengumuman ujian masuk.

Keesokan harinya setelah dia tenang aku tanyakan rencananya ke depan, apakah dia mau menunggu satu tahun lagi demi S1 di UGM atau mencoba perguruan tinggi swasta. Tapi Nona tetap memilih untuk kuliah tahun ini di UGM, jadi kami ambil jalan tengah agar Nona mendaftarkan D3 di UGM yang nantinya bisa diteruskan ke S1.

Aku dan dia pun mulai hunting informasi tentang D3 UGM, mengenai semua administrasi dan persyaratan-persyaratan. Setelah 3 hari di Yogyakarta aku lihat Nona sudah jauh lebih baik, sudah mempunya rencana ke depan dan mempersiapkan diri untuk mengkuti ujian masuk Diploma. Aku pun pamit untuk kembali ke kota tempatku kuliah untuk daftar ulang.

Ternyata aku dan dia tak tahan lama-lama berpisah dari dia. Setiap hari kami selalu saling menghubungi lewat telepon. Dan belum sebulan aku kembali berangkat ke Yogyakarta, dan setelah itu, dan setelah itu. Aku menemani dia untuk tes D3 UGM, kembali lagi ke Jawa Timur, kemudian kembali lagi ke Yogyakarta untuk merayakan keberhasilannya menempuh ujian D3 UGM, lalu disampingnya saat dia dalam masa orientasi kampus, dan selalu kembali lagi. Aku sendiri heran kenapa badanku kuat menempuh perjalanan 12 jam menggunakan bus atau kereta api sesering itu.

Tak terasa telah 1 semester aku lalui bersamanya. Aku menjemputnya untuk pulang ke daerah asal kami. Di sana aku dan dia bertemu kembali dengan Dina dan Yosh. Kembali kami berempat berkumpul walapun keadaannya sudah sedikit berbeda. Tapi sebenarnya aku tahu kalo mereka, Dina dan Yosh, sudah tak asing lagi dengan kebersamaanku dan Nona. Toh sebelum ada apa-apa aku memang selalu berpasangan dengan Nona.

Suatu ketika Nona mengunjungiku. Dia yang memang sudah kenal dengan keluargaku bercengkrama dengan keluargaku. Tak terasa waktu berjalan cepat sekali sampai dia baru sadar bahwa hari telah sore dan Nona pun pamit untuk pulang.

Keesokan harinya aku menelponnya tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali aku menghubungi dia tapi tidak ada respon. Aku mencoba menelpon ke rumahnya tapi dia selalu tidak ada. Bahkan saat aku datangi ke rumahnya pun dia selalu sedang keluar, entah itu adalah yang sebenarnya atau hanya alsan saja. Aku kebingungan.

Keesokan malamnya Dina menelponku mengatakan bahwa Nona ada di rumahnya. Aku langsung memacu motorku menuju rumah Dina. Disana kulihat Nona dengan matanya yang sembab. Ada apa ini? Batinku bertanya-tanya.

“Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” ujar Nona sesaat setelah Dina meninggalkanku berdua dengan Nona.

“Mm.. ma.. maksudmu?” tanyaku tercekat.

“Aku minta maaf, aku terlalu mencintaimu. Aku terlalul mencitaimu sampai mengalahkan cintaku pada orang tua. Bersama denganmu membuatku lupa pada apapun yang lainnya,” ujarnya lagi.

“Aku ga ngerti..” sahutku lirih.

“Kemarin waktu di rumahmu aku minta ijin Papa untuk keluar sebentar, tapi ternyata bersamamu membuatku lupa waktu. Kamu tau kan kalau aku anak kesayangan Papa? Papa mencari-cariku, sedangkan aku lupa ga bawa handphone. Papa bingung...” dia mulai terisak.

“Kamu kena marah?” tanyaku pelan.

Dia menggeleng.

“Aku akan lebih senang jika Papa marah,” jawabnya sambil mengusap matanya yang mulai merah. “Tapi bukan itu yang terjadi, jantung Papa kumat dan dia dibawa ke rumah sakit kemarin. Semua karena aku!”

“Tapi kenapa harus putus, Non? Kalaupun orang tuamu marah padaku, oke kita bisa berjauhan untuk sementara saling intropeksi. Tapi kalau hanya karena ini kita putus, ini sama sekali ga fair buat aku, Non, kamu tau aku selalu ada untukmu kan?”

“Aku tau! Dan kamu benar, kamu ga salah. Ini hanya tentang aku, tentang aku yang terlalu mencintaimu,” sahutnya di sela genangan air matanya. “Aku mungkin naïf banget karena mengakhiri semuanya bersamamu hanya karena itu. Tapi ini adalah Papa, orang yang paling aku cintai melebihi apapun. Maafkan aku...”

Nona beranjak pergi meninggalkanku yang masih terdiam tak percaya. Sesaat aku dengar suara Dina memanggilnya saat Nona menghidupkan motor dan pergi meninggalkan rumah Dina. Tak lama kemudian Dina muncul di hadapanku dan menjawab tatapan tanda tanya besar di mataku padanya dengan mengangkat bahu.

Dengan lemas aku kembali pulang tanpa semangat.

Tapi bagiku ini belum berakhir. Aku mencoba menghubungi Nona kembali tapi tak pernah bisa. Keesokan harinya Yosh menelponku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, aku tak mampu menceritakannya. Dari Yosh aku tahu bahwa Nona mengganti jadwal pulangnya kembali ke Yogyakarta lebih cepat dari seharusnya, malam ini. Aku menjadi patah arang mendengar kabar itu, berarti Nona memang telah yakin untuk meninggalkanku.

Sorenya Yosh mengundangku untuk datang ke rumahnya karena orang tua Yosh punya hajatan. Hanya demi menghormati orang tua Yosh saja aku datang. Yosh pun tak banyak tanya saat melihat wajah murungku, pasti Nona telah menceritakan semuanya pada dia. Aku pun tak banyak bicara.

Merupakan kebiasaan adapt-istiadat di tempatku untuk mengantarkan sebagian konsumsi dari hajatan ke tetangga-tetangga atau orang-orang terdekat. Demikian juga Yosh setelah acara mengajakku untuk mengantar makanan hajatan ke beberapa kerabat terdekatnya. Menggunakan motor aku membantunya membawa makanan tanpa banyak bicara. Yang ada di otakku saat itu hanya Nona dan Nona. Setelah beberapa kali hilir mudik aku tak menyadari bahwa Yosh membawaku ke suatu tempat yang tak pernah aku duga.

“Sekarang juga kamu pergi kepadanya, tadi aku liat mobil papanya meninggalkan sini, berarti keluarganya dah balik pulang,” ucap Yosh membuyarkan lamunanku. Aku terlongo kaget saat sadar aku telah berada di dalam terminal bus malam keberangkatan ke Yogyakarta.

“Apa-apaan kamu Yosh?!” tanyaku kaget.

“Udah cepet sono, 5 menit lagi busnya jalan!” Yosh menarikku turun dari motor dan mendorongku menuju ke bus.

Aku tak tahu apa yang ada di otak yosh, memang terkadang anak itu penuh dengan kejutan.

Aku cepat-cepat naik ke atas bus, baju adat yang masih aku pakai sempat menyusahkanku. Aku segera mencari Nona yang ternyata duduk di bagian tengah.

“Non..!” panggilku mengagetkan dia.

Nona tersentak dari lamunannya memandang keluar jendela dan menatapku tak percaya, mungkin karena keberadaanku atau karena pakaianku, entahlah.

“Kok balik ga bilang-bilang?” tanyaku mengambil posisi duduk di sebelah dia.

“Haruskah?” jawab Nona tenang sambil tersenyum.

Aku menghela nafas panjang. Ingin rasanya mengacak-acak rambutnya saat dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah tanya juga. Tapi kali ini mungkin aku lebih baik menahan diri.

“Ya setidaknya aku ga akan kehilangan kamu banget jika kamu kasi tau,” jawabku sekenanya.

Lagi-lagi dia menjawab tersenyum.

Bus beranjak bergerak dari diamnya, aku mulai panik, waktuku telah habis.

“Non,” panggilku lirih sambil mengambil tangannya dan menggenggamnya erat. “Aku tau ini berat untukmu, tapi tolong jangan tinggalkan aku dengan keadaan putus begini. Kamu tau aku mencintaimu, melebihi apapun. Kamu tahu kebersamaan kita adalah segalanya bagiku, aku…” ucapanku terpotong saat jari telunjuk Nona ditempelkan berdiri di depan bibirku.

Nona tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “maafkan aku,” sahutnya pelan.

Aku bagaikan terhempas jatuh. Aku merasa sendiri tanpa siapa-siapa. Bahkan tak kuhiraukan omelan sopir bus saat aku minta dia menghentikan busnya untuk menurunkanku. Entah berapa lama aku terdiam hingga tak merasakan bus malam yang membawa Nona menghilang di kegelapan malam atau kedatangan Yosh yang mati-matian mengejar bus dengan motor dan makanan-makanan yang harus dia antar.

Yosh hanya merangkulku dan tak banyak bicara. Bahkan malam itu aku menghabiskannya bersamanya dengan hanya diam, merokok, dan diam.

Apakah hidup senaif ini?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
To Be Continued

[Red Rose] Mawar Merah

Chapter 4: Bertahan Sebelum Layu
by Dii Ann Choco on Tuesday, April 21, 2009 at 11:44am


Yang aku aku tahu selanjutnya adalah kekosongan hati serasa hidupku hampa.

Aku kembali ke kota kuliahku lebih cepat dari yang aku rencanakan. Seribu tanya dari keluargaku atas keputusanku untuk kembali lebih cepat tak kuhiraukan lagi. Untuk saat ini kota ini terlalu mengingatkan tentang Nona, masih terlalu menyakitkan.

Rumah kosku masih sepi dari penghuninya saat aku menginjakkan kaki di kota ini. Hanya beberapa teman kos yang jarang ada karena mengisi liburan semester mereka dengan program semester pendek, entah untuk mengejar ketinggalan mata kuliah mereka, atau untuk memperbaiki nilai dengan mengulang mata kuliah yang telah di tempuh. Tapi yang pasti kedatanganku kali ini tak berpengaruh pada kesibukan mereka, walaupun dari wajah mereka sering muncul tanda tanya kemanakah keceriaan yang biasanya terpendar dimukaku.

Hari-hariku terlewatkan hanya berada di dalam kamar kos, ditemani lagu-lagu metal yang memekakkan telinga sebagai pelampiasan emosi, untung kosku masih sepi jadi aku bisa putar dengan volume maksimal, dan berbatang-batang rokok yang terasa teramat sangat cepat habis. Tebalnya asap rokok di kamar kosku yang pengap ini mungkin sudah cukup untuk membuat noda permanent di paru-paru.

Baru setelah satu minggu aku melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah kosku. Mencoba lebih rileks menikmati kampus yang belum penuh sesak seperti biasanya. Suasana sore yang masih sepi karena tak ada kuliah semester pendek membuatku bisa menikmati rindangnya pohon-pohon yang mengelilingi kampusku. Duduk sendiri di lantai paling atas sambil merokok menikmati gemerisik daun-daun pepohonan tak jauh dari sana, melihat burung-burung yang sesekali berterbangan berkejaran seakan mereka tak ada beban. Mungkin dari sisi inilah aku seharusnya melihat hidup ini.

Beberapa hari kemudian waktu untuk registrasi ulang dimulai. Seperti biasa tak banyak mahasiswa yang mendaftar ulang-kan dirinya di awal-awal waktu, jadi suasana masih lenggang dan prosesnya pun bisa cepat. Saat-saat itu aku bertemu dengan salah satu teman kampusku namun berbeda jurusan, namanya Amy. Dia anak Jakarta, cerewet, selalu ceria dan yang aku suka dari dia adalah selalu berpikiran positif. Dia juga anak pecinta alam, entah telah berapa kali dia mendaki menuju puncak gunung teringgi di Jawa yang selama ini aku impikan.

Aku sempat kaget juga saat bertemu Amy di kampus karena dia adalah mahasiswa yang tipenya sepertiku, melakukan register ulang di saat-saat terakhir agar bisa lama di kampung, atau bahkan kalau bisa titip pada teman agar bisa lebih lama lagi walaupun terlambat untuk memulai kuliah. Akhirnya aku tahu jawaban atas pertanyaanku, setelah dia cerita bahwa kedatangannya yang lebih cepat dari biasanya karena dia baru putus dengan pacarnya yang sudah jalan dengannya selama 5 tahun. Kondisi yang sama denganku.

Mungkin karena itulah aku dan Amy jadi saling menghibur satu sama lain, saling bercerita tentang mantan-mantan, moment-moment, dah saling menopang saat salah satu down ketika mengingat mereka. Mereka, orang-orang yang mematahkan hatiku dan Amy.

Lebih dari 1 bulan tanpa terasa kebersamaanku menjadikan aku dekat dengan Amy. Walaupun Nona masih ada di dalam hatiku, tapi Amy telah mengisi ruang kosong yang lain. Aku paling benci pada pelarian perasaan, oleh karena itu dengan penjelasan bahwa aku akan belajar mencintainya, aku meminta Amy menjadi kekasihku. Waktu itu tanggal 9 Maret malam aku mengungkapkan perasaanku pada Amy sejujurnya. Aku tak memaksanya jika dia masih belum melupakan mantannya, tapi jika dia menjawab iya maka aku akan merapikan lagi puing-puing hatiku yang berserakan bersamanya. Dan Amy pun menjawab iya.

Esoknya, 10 Maret, aku bangun kesiangan setelah semalam aku memikirkan tindakanku menembak Amy. Dengan mata yang masih setengah terpejam aku membuka pintu kamar kosku yang ada di lantai 2, sinar matahari yang sudah tinggi membutakan mataku untuk sesaat. Setelah aku terbiasa dengan sinar matahari aku terkejut melihatnya, Nona berlutut di depan pintu kamarku sembari memegang mawar merah.

Aku terdiam.

Kulihat senyum manisnya tersungging di wajahnya yang pucat. Pucat? Ya dia pucat sekali. Dengan cepat setelah sadar aku merengkuhnya untuk berdiri dan menuntunnya masuk ke kamaku. Segera aku ambilkan segelas air putih untuknya. Setelah minum tampak dia menghela nafas panjang. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya, sebuah kaset. Aku menerimanya dr tangannya yang menjulur dan memutarnya ke dalam tapeku.

Anyer 10 Maret, Slank.

“Please back to me…” ujarnya lirih sambil memberikan mawar yang dari tadi tak dilepasnya, ditemani suara Kaka Slank yang memainkan emosi dengan lagu itu.

Aku menerima mawar dan meletakkan di atas meja.

“Kamu kecapekan, istirahat aja dulu,” jawabku. Dia merebahkan badannya ke atas tempat tidur. Aku duduk di samping tempat tidur sambil membelai rambutnya. Dia memiringkan badannya memandangku dengan tatapan rindu yang seakan tak pernah ada habisnya. Perlahan matanya pun terpejam dan terlelap dalam capeknya didiringi lagu Slank yang masih terlantun dari tape bututku.

Aku memandangnya terlelap dalam tidur, mencoba mengerti apa yang dia lakukan. Menempuh perjalanan dengan bus malam selama 12 jam dari Yogyakarta bukanlah hal yang mudah baginya, tampak tak ada persiapan dan sendirian. Terbayang olehku perang batinnya untuk kesini sampai akhirnya dia memutuskan untuk berangkat menjemput belahan jiwanya.

Aku biarkan dia istirahat. Aku turun untuk mandi dan merapikan diri. Keluar sebentar untuk membeli makanan untuk Nona. Saat aku kembali aku lihat Nona sudah bangun dan sedang melihat-lihat keadaan kamarku yang acak-acakan. Dia tersenyum saat melihat surat-suratnya yang aku susun rapi di rak paling atas mejaku, potongan-potongan kata-katanya di surat yang aku tulis rapid an aku temple di lemariku sebagai penyemangatku. Tapi matanya masih berputar mencari sesuatu.

“Foto kita sudahku lepas, Non, ada di dalam lemari,” jawabku menjawab apa yang dia cari. Dia tersenyum mendengar jawabanku.

“Kok kamu tahu aku mencari itu?” tanya dia menerima piring makanan yang aku berikan padanya.

“Kita kan cermin,” jawabku sekenanya mengutip ungkapannya tentangku dan dia.

Dia terbahak.

“Hmmm, boleh aku mandi dulu sebelum makan?” tanya dia setelah meletakkan makanan di mejaku.

“Kenapa ga? Aku pikir kamu bakalan betah makan dengan badan bau begitu,” jawabku menghindari cubitan dia yang mengejarku setelahnya.

Rumah kosku memang kos untuk para mahasiswa dan sebenarnya cewek tidak boleh masuk ke kamar walaupun pemiliknya tidak tinggal di sini. Tapi sebagian teman-teman kosku sudah mengenal Nona walaupun hanya dari telepon dan cerita-ceritaku, jadi ketika Nona datang subuh tadi mereka tak keberatan Nona menungguku di depan pintu kamarku. Bahkan tidak ada komentar apa pun saat Nona numpang mandi, entah mereka memang mengijinkan atau karena tidak enak denganku. Masa bodoh deh dengan semua itu.

Tapi sebenarnya yang berkecamuk di hatiku adalah bagaimana semua ini bisa terjadi? Baru semalam aku meminta Amy untuk menjadi pacarku, pagi ini Nona sudah ada di depan mataku. Bagaimanapun aku masih mencintai Nona.

Aku menanyakan kabarnya dan teman-temannya saat aku dan Nona mulai makan di beranda depan kamar kosku. Dia menjawab baik, juga tentang kuliahnya. Cerita-ceritanya pun mengalir dari mulutnya, keriangannya yang selama 2 bulan ini aku rindukan. Setelah makan sesekali aku mengacak rambutnya saat dia meledekku dengan cerita-cerita laluku. Sungguh kali ini aku benar-benar merasakan kerinduanku padanya yang selama ini tak terungkapkan.

Kulihat sebuah gitar milik teman kosku tergeletak di beranda itu. Aku mengambilnya saat aku membuang batang rokok yang habis ku hisap. Sesuai dengan request Nona aku memetik senar gitarnya mengalunkan nada-nada lagu hari itu, Anyer 10 Maret, lagi-lagi tentang lagu ini.

Aku lihat matanya berkaca-kaca sambil menyanyikan lagu itu. Sampai saat itu aku memang belum membahas permintaannya untuk kembali padaku, biarkan dulu Nona menenangkan diri. Setelah ini saat hatinya sudah enak dia pasti akan menanyakanku kembali, atau aku yang akan memulainya jika dia tak juga bicara tentang itu. Lagipula aku masih bingung bagaimana cara mengungkapkan padanya bahwa dia terlambat. Pasti akan sakit sekali. Entahlah.

Tapi tiba-tiba hal yang tak terduga kembali terjadi.

Amy datang.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

To Be Continued

[Red Rose] Mawar Merah

Chapter 5: Meranggas
by Dii Ann Choco on Monday, April 27, 2009 at 4:09pm

Saat aku membereskan sisa-sisa makan siangku bersama Nona dan membawa turun piring-piring kotor, disaat itulah aku baru menyadari jika Amy ada di anak tangga bersama beberapa teman kosku. Aku terkejut. Tapi saat aku lihat Amy sedang asyik bergurau dengan mereka hatiku lega berarti Amy tidak marah padaku.

Setelah aku membereskan piring-piring kotor, aku ajak Amy bicara dan memberitahunya tantang kedatangan Nona. Amy justru mengajakku ke lantai 2 dan minta dikenalkan pada Nona. Aku katakana pada Nona bahwa Amy sudah tahu banyak tentang dia dan hal itu segera disahutin dengan pertanyaan ramah dari Amy tentang kabar Nona. Aku lihat mereka berdua pun sibuk dengan perbincangan layaknya orang yang memang baru saling kenal.

Sedangkan aku tak banyak bicara. Entah karena aku tidak dapat mengikuti arah pembicaraan mereka atau karena perasaanku yang kacau melihat mereka berdua. Aku tak pernah menyangka mempunyai pengalaman seperti ini, mantan yang kucintai setengah mati bersama dengan pacarku saat itu. Tapi yang jelas Nona belum tahu siapa Amy walaupun tentu saja Amy sudah tahu tentang Nona.

Tak lama Amy pamitan untuk pergi tanpa meninggalkan pesan untukku. Hampir sore saat aku mengajak Nona keluar berkeliling kota, tak banyak sih hanya beberapa tempat saja. Ketika matahari berada di ufuk barat aku mengajaknya ke rumah sahabat dekatku teman kuliah yang memang asli orang sana, namanya Suman.

Selama aku kuliah aku mempunyai beberapa teman akrab dari kampusku yang berasal dari berbagai daerah. Memang aku lebih tertarik pada keragaman mereka, jadi aku bisa mempunyai bayangan tentang perbedaan-perbadaan yang ada. Salah satu teman yang paling akrab denganku sebut saja bernama Suman, dia asli berasal dari daerah kotaku kuliah, bahkan katanya rektor kampusku adalah pamannya atau saudara jauh Mamanya, tapi entahlah dia tak pernah bisa membuktikan padaku.

Di satu sisi Suman memang besar mulut, tapi dia adalah sahabat yang baik. Dia adalah pendengar yang baik, menelaah curhat-curhat teman-teman yang lain, dan bisa memberikan advice yang kelihatannya cukup bijak. Dia juga bisa memberi support, memberikan dorongan bagi teman-teman yang sedang mengalami kesedihan. Pokoknya temenku yang satu ini top habis deh.

Hanya saja kekurangannya adalah tentang cewek. Dengan gayanya yang lincah dia mudah untuk mendekati cewek-cewek kampus. Memang mukanya bukanlah type muka idola cewek-cewek, alias tidak cakep, malah mendekati (maaf) presenter terkenal Tukul, tapi kelincahannya terbukti dia dapat mendekati beberapa cewek di kampus. Aku sebagai temannya hanya bisa tertawa saja saat dia cerita tentang ‘kejahatan-kejahatan kelamin’ (begitu dia menyebutnya) yang dia lakukan terhadap korban-korbannya.

Tapi Suman memang teman terdekatku. Aku menceritakan apapun tentang diriku padanya, termasuk juga tentang Nona. Bahkan tak jarang aku tak keberatan saat dia minta ijin untuk membaca surat-surat Nona yang dikirimkan untukku. Aku sudah percaya 100% padanya. Hal-hal negative yang dia lakukan hanya aku sikapi sebagai urusannya pribadinya, sebagai teman aku belum tentu berhak untuk mencampuri urusannya.

Perkenalan Nona dan Suman berlangsung hangat. Kami bertiga bisa nyambung dalam bercengkrama,, maklum karena Suman memang serasa sudah mengenal Nona banget, hanya saja baru bertemu wujud fisiknya sekarang.

Cukup lama aku dan Nona berada di tempat Suman sampai akhirnya aku mengajak Nona melanjutkan keliling-keliling. Mendekati tengah malam aku baru sempat makan dengan Nona di Alun-alun Kota. Suasana yang bukan malam minggu tidak begitu ramai, membuatku bisa menikmati kebersamaanku bersama Nona. Dini hari dia malah mengajakku berjalan kaki melewati jembatan putar yang disebut semanggi, padahal jika di bandingkan daun semanggi, jalan ini hanyalah 1 kelopak saja, tidak seperti jembatan Semangi di Jakarta yang 4 putaran seperti 4 kelopak daun Semanggi.

Aku dan dia menikmati bintang-bintang di langit yang cerah di atas puncak jembatan, seperti biasanya aku dan dia memandang bintang-bintang berharap ada salah satu yang jatuh agar kami bisa make a wish. Hampir jam 3 aku mengajaknya kembali. Saat itu aku bingung dia akan istirahat dimana, tapi karena kosku sudah sepi terlelap semuanya aku suruh saja dia istirahat di kamarku, sedangkan aku pindah ke kamar teman kosku yang lain.

“Kamu dah jadian dengan Amy ya?” Tanya Nona saat kami sarapan keesokan paginya.

Aku bagai disambar petir. Aku lupa harus membahas itu.

“Iya,” jawabku pelan.

“Dia anak baik, aku suka dengannya. Dan mungkin aku akan kelewatan jika untuk kedua kalinya aku merebutmu dari wanita lain, toh terbukti aku hanya menyakitimu.”

Entah lega atau sedih saat aku mendengarnya berkata seperti itu. Lega karena dia mengerti, sedih karena dia tak bersamaku lagi.

“Maafkan aku,” sahutku dengan nada hati-hati.

“Buat apa? Kamu ga salah, itu hak kamu. Aku yang dengan naifnya meninggalkanmu, menolakmu untuk kembali, dan menghancurkanmu. Jadi aku memang sudah pantas menerima kenyataan bahwa aku sudah tak memilikimu lagi,” jawabnya setelah menggambil segelas air putih.

“Aku hanya tak menyangka aku akan mencintaimu sedemikian dalamnya, sampai aku yang tak pernah mau melakukan sesuatu untuk lelaki datang jauh-jauh menempuh perjalanan 12 jam kesini hanya untuk memintamu kembali,” lanjutnya. “Yah memang nasibku tak bisa bersamamu lagi.”

Nona menghela nafas panjang.

Aku terpekur memainkan rokok yang baru kunyalakan.

“Aku hancur Non,” kataku pelan.

Nona memandangku terkejut dengan kata-kataku, menunggu lanjutan perkataanku.

“Untuk pertama kali aku benar-benar hancur oleh wanita,” lanjutku. “Tapi itu bukan apa-apa, Non! Itu bukan apa-apa bagiku daripada menyadari kenyataan bahwa saat itu aku tak bisa memilikimu lagi.”

Aku menghela nafas panjang melihat Nona menundukkan kepalanya.

“Dan aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu sampai aku pun akan melepas Amy untukmu.”

Nona langsung menatapku tajam.

“Hanya saja kali ini tolong beri aku waktu agar clear,” lanjutku sambil menggenggam jari tangannya di atas keja. ”Seperti katamu, sudah cukup aku meninggalkan Gia demimu, jangan Amy. Walaupun memang semuanya demi kamu, tapi setidaknya aku memutuskan Amy dulu sebelum kembali padamu.”

Kulihat mata Nona menggenang.

“But..,”

“Please be patient,” potongku cepat.

Nona mengangguk dan menghambur memelukku, dan aku menerimanya, merindukannya, sangat.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


To Be Continued